e-περιοδικό της Ενορίας Μπανάτου εν Ζακύνθω. Ιδιοκτήτης: Πρωτοπρεσβύτερος του Οικουμενικού Θρόνου Παναγιώτης Καποδίστριας (pakapodistrias@gmail.com), υπεύθυνος Γραφείου Τύπου Ι. Μητροπόλεως Ζακύνθου. Οι δημοσιογράφοι δύνανται να αντλούν στοιχεία, αφορώντα σε εκκλησιαστικά δρώμενα της Ζακύνθου, με αναφορά του συνδέσμου των αναδημοσιευόμενων. Η πνευματική ιδιοκτησία προστατεύεται από τον νόμο 2121/1993 και την Διεθνή Σύμβαση της Βέρνης, κυρωμένη από τον νόμο 100/1975.

Τα νεότερα στα θεματικά ένθετα

Κυριακή, 14 Μαρτίου 2021

HOMILI KATEKETIK BAGI PUASA SUCI DAN AGUNG 2021

✠ B A R T H O L O M E U S
OLEH BELAS KASIH ALLAH USKUP AGUNG KONSTANTINOPEL-ROMA BARU DAN PATRIARK EKUMENIKAL
KEPADA PEMILIK GEREJA
KIRANYA RAHMAT, PENGASIHAN DAN DAMAI DARI YESUS KRISTUS TUHAN DAN JURUSELAMAT KITA BERSAMA DENGAN DOA-DOA KAMI, BERKAT DAN PENGAMPUNAN BESERTAMU SEMUA

Saudara-saudara yang termulia dalam Kristus dan anak-anak yang terkasih,
Dengan kehendak baik dan rahmat dari Allah, sang pemberi segala hal yang baik, kita memasuki Puasa Suci dan Agung, arena perjuangan asketis. Gereja mengenal labirin jiwa manusia dan untaian Ariadne, jalan keluar dari semua kebuntuan - kerendahan hati, pertobatan, kekuatan doa dan ibadat-ibadat suci akan penyesalan, puasa yang menghilangkan nafsu, kesabaran, ketaatan pada aturan kesalehan. Maka Gereja mengundang kita sekali lagi tahun ini ke perjalanan yang diilhami secara ilahi, yang ukurannya adalah Salib dan yang cakrawalanya adalah Kebangkitan Kristus.

Penghormatan Salib di tengah Puasa Suci dan Agung mengungkapkan arti dari seluruh periode ini. Sabda Tuhan kita bergema lantang: “Barangsiapa ingin mengikut Aku… biarlah mereka memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9.23). Kita dipanggil untuk mengangkat salib kita sendiri, mengikuti Tuhan dan memandang SalibNya yang memberi kehidupan, dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan dan bukan pengangkatan salib kita. Salib Tuhan adalah “penghakiman atas kriteria kita,” “penghakiman dunia,” dan pada saat yang sama janji bahwa kejahatan dalam segala bentuknya tidak memiliki kata akhir dalam sejarah. Dalam memandang Kristus dan di bawah perlindungan-Nya, karena Dialah yang memperkenankan perjuangan kita, sambil memberkati dan memperkuat upaya yang kita lakukan, kita berjuang dalam pertarungan yang baik, “menderita dalam segala hal, tetapi tidak hancur; bingung, tetapi tidak putus asa; teraniaya, tapi tidak ditinggalkan; dipukul, tetapi tidak hancur” (2 Kor 4.8–9). Ini adalah inti pengalaman, dan juga selama periode Salib dan Kebangkitan saat ini. Kita sedang dalam perjalanan menuju Kebangkitan melalui Salib, yang melaluinya "sukacita telah datang ke seluruh dunia."

Beberapa darimu mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja, di tengah pandemi saat ini, menambahkan pada batasan kesehatan yang sudah ada yakni “karantina,” yang disebut Puasa Agung. Memang, Puasa Agung adalah juga merupakan "karantina", periode yang berlangsung selama empat puluh hari. Meskipun demikian, Gereja tidak bermaksud untuk melemahkan kita lebih lagi dengan kewajiban dan larangan tambahan. Sebaliknya, itu memanggil kita untuk memberi makna pada karantina yang kita jalani sebagai akibat dari virus corona, melalui Puasa Agung, sebagai pembebasan dari perbudakan kepada “hal-hal dunia kita”.

Bacaan Injil hari ini menetapkan syarat pembebasan tersebut. Syarat pertama adalah berpuasa, bukan dalam arti berpantang hanya dari makanan tertentu, tetapi juga dari kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita tetap melekat pada dunia. Pantang seperti itu bukan merupakan ekspresi penghinaan terhadap dunia, tetapi prasyarat yang diperlukan untuk mengarahkan kembali hubungan kita dengan dunia dan untuk mengalami kegembiraan unik menemukan dunia sebagai wilayah kesaksian Kristen. Inilah mengapa, bahkan selama tahap puasa ini, pendekatan dan pengalaman hidup umat beriman memiliki dimensi paskah, rasa kebangkitan. “Suasana Prapaskah” tidak menyedihkan, tapi menyenangkan. Ini adalah "sukacita besar" yang diberitakan sebagai kabar baik oleh malaikat "kepada semua orang" pada saat kelahiran Juruselamat (Luk 2.10). Ini adalah "kegenapan sukacita" yang tak tergoyahkan (1 Yoh 1.4) hidup di dalam Kristus. Kristus selalu hadir dalam hidup kita - Dia lebih dekat dengan kita daripada kita dengan diri kita sendiri - sepanjang hidup kita, “sampai akhir zaman” (Mat 28.20). Kehidupan Gereja adalah suatu kesaksian tak tergoyahkan dari rahmat yang telah datang dan harapan Kerajaan, untuk kepenuhan penyataan misteri Ekonomi Ilahi.

Iman adalah tanggapan atas kerendahan kasih Tuhan kepada kita; itu adalah "Ya" dari seluruh keberadaan kita kepada-Nya, yang "membungkuk ke langit dan turun" untuk menebus umat manusia "dari perbudakan musuh" dan untuk membukakan bagi kita jalan menuju pengilahian melalui kasih karunia. Kasih pengorbanan untuk sesama dan "kepedulian" untuk seluruh ciptaan muncul dari dan dipelihara oleh karunia rahmat ini. Jika cinta kasih untuk sesama dan kepedulian yang menyenangkan Allah untuk ciptaan tidak ada, maka sesamaku menjadi "neraka bagiku" dan ciptaan ditinggalkan untuk kekuatan irasional, yang mengubahnya menjadi objek eksploitasi dan menjadi lingkungan yang bermusuhan bagi umat manusia.

Syarat kedua dari pembebasan yang dijanjikan oleh Puasa Agung adalah pengampunan. Melupakan belas kasihan ilahi dan kemurahan hati Allah yang tak terlukiskan, pelanggaran atas perintah Allah bahwa kita harus menjadi "garam dunia" dan "terang dunia" (Mat 5.13-14), dan transformasi palsu dari cara hidup Kristiani: untuk semua sikap ini mengarah pada "spiritualitas tertutup" yang tumbuh subur di atas penyangkalan dan penolakan dari "yang lain" dan dari dunia, menghapus cinta, pengampunan dan penerimaan yang berbeda. Tetapi, sikap hidup yang mandul dan arogan ini secara tegas dikecam oleh firman Injil pada tiga Minggu Triodion diawal.

Dipahami bahwa kecenderungan tajam seperti itu terutama lazim selama periode ketika Gereja mengundang umatnya untuk disiplin dan kewaspadaan spiritual. Namun, kehidupan rohani yang otentik ini adalah merupakan suatu jalan pembaharuan terdalam, suatu eksodus dari diri kita sendiri, suatu gerakan kasih terhadap sesama kita. Ini tidak didasarkan pada sindrom kemurnian dan pengucilan, tetapi pada pengampunan dan kearifan, pujian agung dan ucapan syukur, seturut pada pengalaman kebijaksanaan dari tradisi asketis: “Bukan makanan, tetapi kerakusan yang jahat… bukan berbicara, tetapi ucapan-ucapan tanpa faedah… bukan dunia, tapi hawa nafsu."

Dengan sikap dan perasaan-perasaan ini, kami meminta doa-doa permohonanmu juga, untuk pembukaan kembali Sekolah Teologi Suci Halki, setelah jangka waktu lama lima puluh tahun yang telah berlalu sejak keheningannya yang dipaksakan secara eksternal dan sepenuhnya tidak adil, karenanya bersama kami sambutlah Puasa Suci dan Agung di Gereja, sembari bernyanyi dan mengidung bersama “Allah beserta kita,” kepadaNya Yang Empunya kemuliaan dan kekuatan hingga sepanjang segala abad. Amin!
Puasa Suci dan Agung 2021
✠ Bartholomew of Constantinople
Pemohon doamu yang setia dihadapan Allah

Δεν υπάρχουν σχόλια: